Menghadapi fase anak yang sedang sangat aktif bergerak dan mengeksplorasi dunia adalah tantangan yang luar biasa bagi setiap orang tua. Di satu sisi, melihat buah hati tumbuh sehat dan ceria adalah kebahagiaan, namun di sisi lain, energi mereka yang seolah tidak terbatas sering kali membuat orang tua merasa kelelahan secara fisik maupun emosional. Stres pengasuhan adalah hal yang wajar terjadi, namun jika tidak dikelola dengan baik, hal ini dapat memengaruhi kualitas hubungan antara orang tua dan anak. Kuncinya terletak pada bagaimana orang tua mampu menciptakan keseimbangan antara kesibukan mengasuh dan perawatan diri sendiri secara mental.
Menerima Kenyataan Bahwa Rumah Berantakan Itu Wajar
Salah satu pemicu stres terbesar bagi orang tua adalah standar kebersihan rumah yang terlalu tinggi di tengah aktivitas anak yang sedang aktif bermain. Penting untuk menyadari bahwa rumah yang dipenuhi mainan berserakan adalah tanda bahwa anak Anda sedang belajar dan berkembang dengan baik. Cobalah untuk menurunkan ekspektasi terhadap kerapian rumah secara instan dan fokuslah pada keamanan lingkungan bermain mereka. Dengan menerima bahwa kondisi rumah yang “hidup” adalah fase sementara, beban pikiran Anda akan berkurang secara signifikan dan Anda bisa lebih menikmati momen kebersamaan tanpa rasa bersalah.
Menjadwalkan Waktu Istirahat Singkat Secara Rutin
Mengelola stres membutuhkan jeda, meskipun hanya dalam hitungan menit. Di sela-sela mengawasi anak bermain, cobalah untuk melakukan teknik pernapasan dalam atau sekadar menikmati secangkir teh hangat saat anak sedang asyik dengan aktivitasnya. Jika memungkinkan, buatlah jadwal bergantian dengan pasangan untuk memberikan waktu luang bagi masing-masing guna melakukan hobi atau sekadar beristirahat tanpa gangguan. Waktu yang disebut sebagai me-time ini bukan bentuk keegoisan, melainkan investasi agar Anda memiliki persediaan sabar yang lebih banyak saat menghadapi tingkah polah anak yang menggemaskan sekaligus melelahkan.
Membangun Komunikasi dan Dukungan Keluarga
Jangan mencoba untuk menjadi orang tua super yang melakukan segalanya sendirian tanpa bantuan. Berkomunikasilah secara terbuka dengan pasangan mengenai perasaan lelah atau stres yang Anda alami agar beban tersebut bisa dipikul bersama. Jika Anda memiliki akses ke sistem pendukung seperti kakek-nenek atau teman dekat, jangan ragu untuk meminta bantuan sesekali agar Anda bisa mengisi ulang energi. Dukungan sosial merupakan faktor penting yang dapat menurunkan tingkat kecemasan dalam pengasuhan. Dengan berbagi cerita dan beban, Anda akan merasa lebih tenang dan tidak merasa berjuang sendirian di tengah hiruk-pikuk dunia anak-anak.
Fokus pada Kualitas Hubungan Bukan Kesempurnaan
Sering kali stres muncul karena orang tua terlalu sibuk mengatur perilaku anak agar sesuai dengan keinginan orang dewasa. Cobalah untuk sesekali ikut masuk ke dalam dunia mereka dan bermain bersama tanpa beban target tertentu. Bermain bersama anak yang aktif justru bisa menjadi sarana pelepasan stres jika dilakukan dengan hati yang gembira. Alihkan fokus dari upaya mengontrol setiap gerak-gerik mereka menjadi upaya membangun koneksi emosional yang kuat. Ketika hubungan antara orang tua dan anak harmonis, perilaku anak cenderung lebih kooperatif, yang pada akhirnya akan menurunkan tingkat stres Anda sebagai orang tua secara alami.












